Islam Tidak Mengajarkan Mental Miskin
Islam tidak pernah mengajarkan mental miskin atau pasrah. Ajaran Islam justru menumbuhkan harga diri, kerja keras, dan kemandirian. Sayangnya, sebagian orang salah memahami makna sabar, tawakkal, dan qana‘ah. Mereka menganggap semua itu berarti diam, menerima keadaan tanpa usaha, dan menyerahkan segalanya pada takdir tanpa bergerak. Padahal dalam pandangan Islam, pasrah tanpa ikhtiar bukan tanda iman, melainkan kelalaian spiritual.
Al-Qur’an menolak sikap menyerah seperti itu. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 139, Allah berfirman:
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.”
Ayat ini turun setelah kaum Muslim mengalami kekalahan di perang Uhud. Di saat manusia cenderung jatuh dan putus asa, Allah justru memerintahkan agar mereka tetap tegak. Imam Fakhr al-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa kata “kamu yang paling tinggi” bukan hanya berarti tinggi secara kekuasaan, tapi tinggi secara ruhani, karena iman sejati memberi kekuatan batin dan martabat yang tidak bisa dikalahkan oleh keadaan lahiriah. Seorang mukmin boleh kalah dalam pertempuran, tapi tidak pernah kalah dalam makna hidup.
Konsep qana‘ah juga sering disalahartikan. Qana‘ah bukan berarti berhenti berusaha, melainkan merasa cukup setelah berjuang sebaik mungkin. Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Ikatlah untamu lalu bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi). Artinya, tawakkal sejati tidak meniadakan usaha. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menulis bahwa meninggalkan sebab (usaha) dengan dalih tawakkal berarti menentang hikmah Allah, karena Allah menempatkan hasil melalui sebab-sebab. Dengan kata lain, bekerja keras adalah bagian dari keimanan.
Rasulullah ๏ทบ sendiri adalah teladan kerja keras dan kemandirian. Sejak muda beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang, bukan hidup dari belas kasihan orang lain. Dalam hadis sahih disebutkan, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Sungguh jika seseorang membawa tali lalu mencari kayu bakar dan menjualnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Abu Dawud). Ini menunjukkan bahwa bekerja, sekecil apa pun, lebih mulia daripada bergantung pada manusia. Dalam pandangan Islam, kehormatan manusia ada pada usaha, bukan pada kepasrahan.
Ahlul Bait Rasulullah juga menegaskan hal yang sama. Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Barang siapa bersungguh-sungguh mencari sesuatu, ia akan mendapatkannya, atau sebagian darinya.” Dalam riwayat lain beliau berkata: “Carilah penghidupan, karena di dalamnya ada bantuan untuk menegakkan agama.” Imam Ja‘far al-Shadiq pun menegaskan: “Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak suka mencari harta halal untuk menjaga kehormatan dirinya, menyambung silaturahmi, dan menolong orang lain dengan hartanya.” Jadi, kekayaan yang diperoleh dengan cara halal bukanlah cela, tapi sarana untuk mengabdi kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.
Para ulama besar pun sejalan dengan pandangan ini. Imam Fakhr al-Razi menulis bahwa Allah tidak mencela dunia, tetapi mencela cinta berlebihan terhadap dunia yang melalaikan manusia dari Allah. Dunia yang dikelola dengan niat menegakkan agama dan menebar manfaat justru bernilai ibadah. Imam al-Ghazali juga menulis bahwa kemiskinan yang diridhai Allah bukanlah kemiskinan pasif, tetapi kemiskinan hati—yakni hati yang tidak bergantung pada dunia walaupun memiliki harta. Jadi, ukuran mulia atau hinanya seseorang bukan pada jumlah kekayaannya, melainkan pada apakah hatinya terikat atau merdeka.
Islam mengajarkan keseimbangan. Seseorang boleh bekerja keras mengejar kemajuan, tapi tetap menjaga ketenangan batin. Ia boleh kaya, tapi tidak sombong. Ia boleh sederhana, tapi tidak rendah diri. Qana‘ah adalah ketenangan jiwa setelah berusaha, bukan alasan untuk berhenti. Tawakkal adalah penyerahan hati kepada Allah setelah berikhtiar, bukan pengganti ikhtiar. Sabar adalah keteguhan dalam perjuangan, bukan diam dalam keterpurukan. Zuhud adalah tidak diperbudak oleh dunia, bukan menolak dunia.
Semua prinsip itu berpuncak pada satu ayat yang menjadi dasar perubahan sosial dan spiritual:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra‘d [13]: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan nasib adalah tanggung jawab manusia. Doa tanpa tindakan hanyalah harapan kosong, dan tindakan tanpa niat yang lurus hanyalah keletihan tanpa arah. Keduanya harus berjalan bersama.
Maka, Islam tidak mengajarkan pasrah pada nasib, tapi berserah pada Allah sambil berjuang. Islam tidak mengajarkan mental miskin, tapi mental merdeka—yakni hati yang bebas dari ketergantungan, namun tangan yang giat bekerja. Nabi Muhammad ๏ทบ, para Ahlul Bait, dan para ulama besar semuanya menunjukkan bahwa keimanan yang benar selalu melahirkan kekuatan, bukan kelemahan; kemandirian, bukan ketergantungan; dan kerja nyata, bukan alasan untuk diam.
Dalam Islam, kemuliaan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita punya, tapi pada seberapa besar kita berusaha dengan hati yang yakin kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar