Postingan

Salahkah menjadi Agamis?

Ada satu kalimat yang akhir-akhir ini sering terdengar, terutama dari kalangan anak muda: “jangan terlalu agamis”, atau “jangan semua hal dibawa ke agama.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan seolah bijak. Namun jika ditelusuri lebih dalam, ia menyimpan satu kekeliruan mendasar dalam cara memandang agama itu sendiri. Sejak kapan agama menjadi sesuatu yang harus “dibatasi”? Bukankah ketika seseorang memilih untuk beragama, itu berarti ia menerima sebuah sistem hidup yang utuh? Agama bukan sekadar ritual yang hadir di waktu-waktu tertentu—bukan hanya shalat, puasa, atau doa—tetapi ia adalah cara berpikir, cara merasa, dan cara menjalani kehidupan secara keseluruhan. Memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari justru bertentangan dengan hakikat agama itu sendiri. Dalam Islam, kehidupan bukanlah ruang yang netral tanpa arah. Ia adalah perjalanan yang penuh makna, dan agama hadir sebagai pemandu. Allah berfirman: "Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku han...

Terbitnya Sang Surya di Negri Timur

Sebelum cahaya itu terbit dari timur, dunia telah terlalu lama berada dalam kegelapan. Bukan kegelapan yang hening, melainkan kegelapan yang bising oleh kezaliman, mabuk oleh hawa nafsu, dan pekat oleh kebodohan yang diwariskan turun-temurun. Manusia hidup, namun nilai kemanusiaan nyaris mati. Peradaban berjalan, tetapi tanpa arah dan tujuan. Di Jazirah Arab, masyarakat hidup dalam apa yang kemudian dikenal sebagai jahiliyah—bukan sekadar kebodohan intelektual, melainkan kebutaan moral dan kerusakan spiritual. Tuhan disembah dalam bentuk batu dan patung. Di sekitar Ka’bah berdiri ratusan berhala: Hubal, Latta, ‘Uzza, dan Manat. Tawaf dilakukan dalam keadaan telanjang. Nasib manusia digantungkan pada ramalan panah dan takhayul, bukan pada akal dan nilai ilahi.¹ Kehidupan sosial pun runtuh dari dalam. Perang antar kabilah berlangsung puluhan tahun hanya karena persoalan sepele. Darah tertumpah tanpa penyesalan. Minuman keras, zina, perjudian, dan riba menjadi bagian dari keseharian. ...

Puncak tertinggi kehidupan : Mengikhlaskan

Islam tidak lahir dari tuntutan lahiriah, melainkan dari satu sikap batin paling sunyi: penyerahan diri. Kata Islam sendiri berasal dari aslama yang jika di artikan dari bahasa arab ke bahasa indonesia maka artinya adalah menyerahkan, meluruhkan kehendak, meletakkan diri sepenuhnya di hadapan Allah. Dan penyerahan diri itu, jika ditelusuri hingga ke akarnya, bernama ikhlas. Ikhlas bukan hiasan akhlak, tapi inti iman. Ia bukan tambahan setelah amal, melainkan jiwa dari setiap gerak. Tanpa ikhlas, amal hanyalah aktivitas; dengannya, amal menjadi ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim) "Hati" di situlah ikhlas bersemayam. Ia tidak selalu tampak, bahkan sering tidak terasa. Justru karena itu ikhlas adalah medan ujian yang paling berat. Dalam bekerja, misalnya. Ikhlas bukan berarti bekerja tanpa lelah lalu diam ketika dizalimi. Ikhlas adalah ketika seseorang tetap juj...