Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Sang Nabi yang tidak bisa membaca & menulis

Salah satu aspek penting dari kehidupan Rasulullah ๏ทบ adalah status beliau sebagai seorang “ummi”—yakni tidak bisa membaca dan menulis. Dalam pandangan sekilas, sebagian orang bisa mengira bahwa hal ini adalah kekurangan. Namun, justru sebaliknya: ke-ummiy-an Nabi ๏ทบ adalah bagian dari kesempurnaan dan mukjizat yang menegaskan kebenaran risalah Islam. Dalil Al-Qur’an tentang Ke-ummiy-an Nabi ๏ทบ : Allah Ta‘ala berfirman: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sebelumnya satu kitab pun, dan tidak (pernah) menulis dengan tanganmu; jika demikian, niscaya ragu orang-orang yang batil.” (QS. al-‘Ankabลซt: 48) Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah ๏ทบ sama sekali tidak belajar dari kitab-kitab terdahulu, tidak membaca, dan tidak menulis. Maka, tidak ada ruang bagi orang Yahudi, Nasrani, maupun kaum Quraisy untuk menuduh bahwa Al-Qur’an hanyalah hasil tiruan dari literatur sebelumnya. “Iqra’” dan Makna Membaca Realitas : Wahyu pertama yang turun adalah firman Allah: “Iqra’ bismi rabbika...

Ka'bah Sebagai Titik Temu

  Di masa Nabi Ibrahim `alaihis-salฤm, manusia terbiasa menyembah simbol-simbol kesyirikan. Mereka membuat patung, kuil, dan berhala untuk dijadikan pusat pengabdian. Namun Nabi Ibrahim dengan tegas menghancurkan semua itu, karena simbol-simbol tersebut tidak layak disembah. Beliau menunjukkan dengan penuh logika bahwa benda mati tidak bisa memberi manfaat, tidak bisa mendengar, dan tidak bisa menolong. Tetapi, setelah semua itu dihancurkan, pertanyaan pun muncul: “Jika semua ini salah, lalu yang benar itu apa? Ke mana manusia harus mengarahkan ibadahnya?” Di sinilah letak kebijaksanaan Allah. Sebagaimana seorang guru yang bijak tidak hanya berkata kepada muridnya “jawabanmu salah”, tapi juga memberikan jawaban yang benar, demikian pula Allah mengutus Nabi Ibrahim untuk menegakkan simbol kebenaran sejati. Maka beliau bersama putranya, Nabi Ismail, diperintahkan untuk membangun Ka‘bah—sebuah bangunan sederhana, tapi sarat makna, yang menjadi pusat ibadah kepada Allah semata. A...

Hikmah Hadist Shaqq Al Sadr

  Riwayat tentang pembelahan dada Rasulullah ๏ทบ seringkali menjadi bahan perdebatan: apakah ia benar terjadi, apakah ia merendahkan kemaksuman Nabi, ataukah justru sebaliknya? Sebagian kalangan menolak riwayat ini dengan alasan bertentangan dengan konsep ‘iแนฃmah (kemaksuman), sebab ada kalimat “ini bagian setan darimu” dalam hadis yang diriwayatkan Muslim. Namun bagi saya, justru riwayat ini adalah bukti agung yang semakin meneguhkan kesucian Nabi, menampakkan perbedaan beliau dengan seluruh manusia lain, dan mengukuhkan maqam kemaksuman sejak kecil, bukan meragukannya. Sejak awal, Nabi Muhammad ๏ทบ adalah cahaya pilihan Allah. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: “Aku adalah Nabi ketika Adam masih berada antara ruh dan jasad.” (HR. al-แธคฤkim, al-Mustadrak, 4174). Sabda ini menunjukkan bahwa kenabian beliau bukanlah proses mendadak yang muncul setelah peristiwa lahiriah, melainkan sesuatu yang sudah ada sejak azali. Beliau adalah al-insฤn al-kฤmil, manusia sempurna yang dipilih Allah ...