Hikmah Hadist Shaqq Al Sadr

 Riwayat tentang pembelahan dada Rasulullah ﷺ seringkali menjadi bahan perdebatan: apakah ia benar terjadi, apakah ia merendahkan kemaksuman Nabi, ataukah justru sebaliknya? Sebagian kalangan menolak riwayat ini dengan alasan bertentangan dengan konsep ‘iṣmah (kemaksuman), sebab ada kalimat “ini bagian setan darimu” dalam hadis yang diriwayatkan Muslim. Namun bagi saya, justru riwayat ini adalah bukti agung yang semakin meneguhkan kesucian Nabi, menampakkan perbedaan beliau dengan seluruh manusia lain, dan mengukuhkan maqam kemaksuman sejak kecil, bukan meragukannya.


Sejak awal, Nabi Muhammad ﷺ adalah cahaya pilihan Allah. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: “Aku adalah Nabi ketika Adam masih berada antara ruh dan jasad.” (HR. al-Ḥākim, al-Mustadrak, 4174). Sabda ini menunjukkan bahwa kenabian beliau bukanlah proses mendadak yang muncul setelah peristiwa lahiriah, melainkan sesuatu yang sudah ada sejak azali. Beliau adalah al-insān al-kāmil, manusia sempurna yang dipilih Allah jauh sebelum lahir ke dunia.


Ketika malaikat Jibril membelah dada beliau, lalu disebutkan “ini bagian setan darimu”, hal itu tidak boleh dipahami sebagai tanda bahwa sebelumnya Nabi ternodai. Sebab Nabi tidak pernah ternodai, tidak pernah dikendalikan hawa nafsu, dan tidak pernah berada dalam kuasa setan. Yang dimaksud adalah bagian dari sisi bashariyyah (kemanusiaan biasa) yang secara fitrah ada pada semua manusia, tetapi pada diri Rasulullah ﷺ Allah angkat dan sucikan, agar beliau menjadi maksum mutlak. Dengan kata lain, itu adalah simbolisasi dari penghapusan segala potensi kerentanan insani yang pada manusia biasa bisa menjadi pintu masuk godaan, sementara pada Nabi ﷺ diangkat agar tidak tersisa sedikit pun.


Apakah dengan itu lantas berarti sebelumnya Nabi tidak maksum? Tentu tidak. Sama sekali tidak. Karena beliau adalah orang yang dipilih sejak sebelum lahir. Peristiwa ini adalah pengukuhan, penegasan, dan pengumuman di hadapan manusia serta malaikat bahwa Muhammad ﷺ bukan manusia biasa. Beliau adalah yang dijaga langsung oleh Allah, suci sejak awal, dan ditampakkan mukjizat kesuciannya dalam bentuk yang kasat mata.


Analogi terindah dapat kita lihat pada ayat tathīr: “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. al-Aḥzāb: 33). Apakah ayat ini berarti sebelum turun ayat itu Ahlul Bait penuh dosa lalu disucikan? Tidak, tentu tidak. Mereka sejak awal sudah suci, terjaga, dan dipilih. Ayat tathīr hanyalah penguat, penegasan dari Allah agar manusia tidak meragukan kesucian mereka. Demikian pula riwayat shaqq al-ṣadr: ia bukanlah awal kesucian Nabi, tetapi tanda pengukuhannya.


Jika kita bandingkan dengan kisah para nabi terdahulu, maka keindahannya semakin nyata. Nabi Musa ‘alayhis-salām pernah memukul seorang Qibthi hingga mati (QS. al-Qaṣaṣ: 15). Nabi Yunus pernah meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah lalu ditelan ikan (QS. al-Ṣaffāt: 139). Nabi Adam tergelincir dengan mendekati pohon terlarang (QS. al-Baqarah: 36). Semua itu bukanlah maksiat dalam arti sebenarnya, melainkan qadar Ilahi yang menjadi bagian dari tarbiyah Allah sebelum mereka diangkat menjadi nabi. Namun, Muhammad ﷺ berbeda. Beliau tidak melewati fase kelalaian insani itu. Sebaliknya, sejak kecil ditampakkan mukjizat kesucian dirinya melalui shaqq al-ṣadr. Maka peristiwa ini bukan kelemahan, melainkan justru bukti bahwa beliau adalah Sayyid al-Anbiyā’, puncak para Nabi, manusia paling sempurna yang Allah jagakan sejak awal.


Di sinilah filsafat memberi cahaya tambahan bagi kita. Dalam pandangan filsafat, khususnya yang berbicara tentang hayūlā (materi pertama atau potensi wujud), segala sesuatu yang berpotensi ada tidak mungkin kembali kepada ketiadaan mutlak. Potensi adalah benih dari realitas, dan ketika ia telah ditetapkan oleh Allah, ia pasti menuju aktualitas. Dengan kata lain, jika Nabi ﷺ sejak awal dipilih, memiliki potensi kesucian, maka mustahil potensi itu pernah tidak ada atau hilang. Kesucian itu niscaya, melekat, dan hanya semakin ditampakkan. Shaqq al-ṣadr hanyalah manifestasi lahiriah dari sesuatu yang secara metafisik sudah melekat pada diri Nabi: kesucian yang tidak mungkin tertiadakan.


Maka, ketika malaikat berkata “ini bagian setan darimu”, saya melihatnya bukan sebagai cela, melainkan sebagai syi‘ar: bahwa pada diri Nabi, bahkan potensi paling kecil untuk menjadi lemah seperti manusia biasa pun Allah angkat dan sucikan. Ia adalah tanda bahwa Nabi berbeda dari seluruh manusia lain, bahwa beliau adalah makhluk yang sejak kecil ditampakkan kesucian lahir dan batinnya.


Kesimpulannya, riwayat shaqq al-ṣadr adalah pengukuhan, bukan pengingkaran. Nabi Muhammad ﷺ adalah maksum sejak awal, sebagaimana Ahlul Bait disucikan bukan karena sebelumnya kotor, tetapi karena Allah ingin mengumumkan kemuliaan mereka. Maka saya melihat riwayat ini sebagai bukti cinta Allah, sebagai perayaan atas ismah Nabi, sebagai tanda bahwa beliau adalah insan kamil yang berbeda dengan siapa pun, sejak kecil sudah ditampakkan sebagai manusia paling suci.



📚 Daftar Referensi :

  1. Al-Ḥākim al-Naysābūrī, al-Mustadrak, no. 4174.
  2. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 162.
  3. Al-Qur’an, QS. al-Aḥzāb (33): 33.
  4. Al-Qur’an, QS. al-Qaṣaṣ (28): 15.
  5. Al-Qur’an, QS. al-Ṣaffāt (37): 139–142.
  6. Al-Qur’an, QS. al-Baqarah (2): 36.



Komentar

  1. menarik. tentu bisa kita memaknai peristiwa dari berbagai sudut pandang yang berbeda. namun pemaknaan tidak akan pernah bisa membuktikan sebuah peristiwa. ulama banyak berbeda pendapat tentang peristiwa tersebut secara lahiriyah. salas satu yang paling relevan adalah al majlisi karena menurutnya riwayat tersebut sangat mirip dengan riwayat2 israiliyyat. selain banyak juga pertanyaan mengenai sanadnya. bahkan di kalangan yang menerima keabsahan riwayat tersebut, banyak yang menolak kejadian pembelahan dada betul2 terjadi secara fisik. mereka lebih cenderung meyakini peristiwa itu terjadi secara batiniah (jadi tidak ada adegan pembelahan dada), bahkan beberapa pendapat yang menolak kejadian pembelahan dada secara fisik melihat itu bertentangan dengan ayat "alam nashrah laka sadrak". walhasil, tidak ada pertentangan soal kemaksuman nabi baik soal kapan dan bagaimananya, itu yang paling penting menurut alfakir. wallahualam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas tanggapan yang sangat bernilai. Benar sekali bahwa hadis tentang shaqq al-shadr (pembelahan dada Nabi ﷺ) termasuk hadis yang diperselisihkan di kalangan ulama, baik dari sisi sanad maupun pemaknaannya. Sebagian ulama memahami peristiwa ini secara lahiriah, sebagian lainnya secara batiniah sebagai simbol penyucian hati Nabi ﷺ.

      Namun, poin yang ingin saya tekankan adalah bahwa seandainya pun riwayat ini sahih dan benar-benar terjadi secara lahiriah, hal itu sama sekali tidak mengurangi kemaksuman Rasulullah ﷺ. Justru peristiwa ini menegaskan kemuliaan dan kesiapan beliau untuk menerima amanah kenabian.

      Al-Qur’an sendiri menyebutkan: “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan bagimu sebutan (namamu).” (QS. al-Insyirah: 1–4). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memang melapangkan dada Nabi, baik secara maknawi maupun, jika dipahami secara lahiriah, sebagai bentuk persiapan ruhani beliau.

      Selain itu, Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’: 107). Rahmat itu tentu lahir dari hati yang suci dan jiwa yang sempurna, sehingga tidak mungkin peristiwa pembelahan dada, jika benar terjadi, mengurangi sedikit pun kesempurnaan beliau.

      Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, ‘ishmah (kemaksuman) Nabi ﷺ adalah prinsip pokok yang tidak bisa dibatalkan oleh riwayat apapun. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa peristiwa shaqq al-shadr justru mengisyaratkan penjagaan Allah terhadap Nabi sejak kecil agar tidak disentuh oleh godaan setan.

      Dengan demikian, baik dipahami secara lahiriah maupun batiniah, hadis ini tetap mengandung hikmah yang menguatkan kemuliaan Nabi ﷺ, bukan sebaliknya.

      Wallahu a‘lam.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benarkah manusia ditanya 77 kali sebelum diturunkan ke dunia? Menimbang ulang sumber pengetahuan dan kebenaran gaib dalam Islam

Ketika Narasi Pribadi Menjadi Rujukan Publik