Benarkah manusia ditanya 77 kali sebelum diturunkan ke dunia? Menimbang ulang sumber pengetahuan dan kebenaran gaib dalam Islam

 Dalam tradisi ilmiah Islam, para ulama menjelaskan bahwa sumber pengetahuan manusia hanya ada tiga:


  1. Pengetahuan inderawi (ุงู„ุญุณّูŠ): yaitu yang ditangkap melalui mata, telinga, sentuhan, dan pengalaman langsung.
  2. Pengetahuan rasional (ุงู„ุนู‚ู„ูŠ): yaitu pengetahuan yang lahir dari proses berpikir, logika, dan kesimpulan akal.
  3. Pengetahuan dari kabar แนฃฤdiq (ุงู„ุฎุจุฑ ุงู„ุตุงุฏู‚): yaitu wahyu yang datang dari Allah melalui rasul yang terbukti kenabiannya. Kabar ini mustahil berisi kebohongan, dan inilah satu-satunya pintu bagi manusia untuk mengetahui perkara ghaib.



Karena itu, segala penjelasan tentang alam ruh, asal-usul manusia, atau apa yang terjadi sebelum dan sesudah dunia, hanya sah apabila bersumber dari al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Di luar dua sumber itu, manusia tidak memiliki jalan untuk mengetahui perkara ghaib. Al-Ghazali berkata: “ู…ุง ูˆุฑุงุก ุงู„ุนู‚ู„ ูˆุงู„ุญุณ ู„ุง ูŠُู‚ุจู„ ุฅู„ุง ุจุฎุจุฑ ุตุงุฏู‚” — apa yang berada di luar jangkauan akal dan indera tidak diterima kecuali dari kabar yang benar.


Sayangnya, manusia zaman sekarang sering memungut kata-kata dari internet, video pendek, dan berbagai potongan cerita tanpa meneliti sumbernya. Mereka tidak bertanya: siapa yang mengatakan? Apa sanadnya? Adakah dalil dari al-Qur’an atau hadis sahih? Fenomena ini membuat banyak orang menjadikan cerita yang terdengar indah sebagai “kebenaran”, padahal tidak memiliki dasar. Imam Ali pernah berkata: “ู„ุง ุชู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ู…ู† ู‚ุงู„، ุงู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ู…ุง ู‚ูŠู„” — jangan lihat siapa yang berbicara, lihat apa yang dikatakannya dan apa dalilnya. Imam Ja‘far al-Sadiq juga mengingatkan: “ูƒู„ ุดูŠุก ู„ู… ูŠุจู† ุนู„ู‰ ุนู„ู… ูู‡ูˆ ุจุงุทู„” — setiap hal yang tidak dibangun di atas ilmu adalah batil.


Salah satu cerita yang sering beredar adalah bahwa manusia ditanya 77 kali oleh malaikat sebelum diturunkan ke dunia — seolah-olah manusia dimintai persetujuan, diberi tahu takdirnya, dan kemudian memilih “ya, aku mau lahir”. Cerita ini populer, tetapi tidak ada satu pun sumbernya dalam al-Qur’an atau sunnah.


Dalam sumber Ahlusunnah tidak ada hadis sahih, hasan, atau dha’if sekalipun yang menyebutkan manusia ditanya berkali-kali sebelum diciptakan. Tidak ada dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Muwatha’ Malik, maupun kitab-kitab hadis lain. Para mufassir besar seperti At-Tabari, Ibn Kathir, Al-Qurtubi, dan Fakhruddin al-Razi juga tidak pernah menyebut riwayat semacam ini. Ulama aqidah seperti Imam Asy’ari, Maturidi, Ibn Taymiyyah, serta para ulama tasawuf seperti Junaid, Qusyairi, dan Al-Ghazali, semuanya tidak mengenal cerita ini.


Yang benar dalam Islam hanyalah satu perjanjian pra-kehidupan, yaitu perjanjian “ุฃู„ุณุช ุจุฑุจูƒู…”. Allah berfirman: “ุฃู„ุณุช ุจุฑุจูƒู… ู‚ุงู„ูˆุง ุจู„ู‰”. Inilah satu-satunya momen di mana ruh manusia memberikan kesaksian sebelum turun ke dunia, yaitu pengakuan terhadap Rububiyyah Allah. Tidak ada 77 pertanyaan, tidak ada tawar-menawar takdir, dan tidak ada pemberitahuan tentang kehidupan dunia sebelum ruh memasuki jasad.


Selain tidak memiliki dalil, cerita “77 pertanyaan” bertentangan dengan inti akidah. Pertama, bertentangan dengan konsep ‘ubudiyyah. Seorang hamba tidak memilih dilahirkan, tidak memilih waktu, tempat, atau ujian hidupnya. Allah berfirman: “ูˆุฑุจูƒ ูŠุฎู„ู‚ ู…ุง ูŠุดุงุก ูˆูŠุฎุชุงุฑ” — Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia memilih. Manusia tidak turut memilih penciptaannya.


Kedua, bertentangan dengan konsep khalifah. Allah menegaskan: “ุฅู†ูŠ ุฌุงุนู„ ููŠ ุงู„ุฃุฑุถ ุฎู„ูŠูุฉ”. Ini adalah keputusan Allah, bukan hasil persetujuan ruh manusia. Tidak ada dalam wahyu bahwa manusia memiliki hak untuk menolak atau menawar amanah ini.


Ketiga, cerita itu bertentangan dengan hikmah penciptaan. Jika ruh manusia diberi tahu kehidupannya — kesulitan, penderitaan, ujian, dan masa depan — tentu semua manusia akan memilih hidup yang mudah. Tidak ada yang secara sadar memilih hidup yang berat. Maka cerita itu tidak sejalan dengan konsep ujian, pahala, perjuangan, dan rahasia takdir.


Kalam Ahlul Bait pun selaras dengan hal ini. Imam Ali berkata: “ู„ู… ูŠُุณุฃู„ ุฃุญุฏ ู‚ุจู„ ุฎู„ู‚ู‡” — tidak ada seorang pun yang ditanya sebelum diciptakan. Imam Jafar al-Sadiq berkata: “ุงู„ุฃุฑูˆุงุญ ุจูŠุฏ ุงู„ู„ู‡، ู„ุง ู…ูุงูˆุถุฉ ู‚ุจู„ ุงู„ุฎู„ู‚” — ruh-ruh berada di tangan Allah, tidak ada perundingan sebelum penciptaan.


Ibn Taymiyyah berkata: “ู„ุง ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูŠุฎุชุงุฑ ุญูŠุงุชู‡ ู‚ุจู„ ูˆู„ุงุฏุชู‡، ูˆุฅู†ู…ุง ุงู„ุซุงุจุช ู‡ูˆ ู…ูŠุซุงู‚ ุงู„ุฑุจูˆุจูŠุฉ” — tidak ada dalil bahwa manusia memilih hidupnya sebelum lahir; yang ada hanyalah perjanjian Rububiyyah. Al-Ghazali menekankan bahwa perkara gaib tidak boleh diambil kecuali dari wahyu yang pasti.


Dengan demikian, jelas bahwa kisah tentang malaikat yang menanyai manusia 77 kali sebelum lahir tidak memiliki dasar agama. Ia bukan bagian dari akidah, bukan bagian dari ajaran Nabi, bukan bagian dari penjelasan para sahabat, bukan bagian dari tafsir Qur’an, dan bukan bagian dari tradisi ilmiah Islam. Ia hanyalah cerita yang terdengar menarik, namun tidak memiliki akar.


Sebagai hamba dan khalifah Allah, manusia tidak memilih amanah ini. Allah yang memilih, dan manusia menjalankan tugasnya. Maka penting bagi kita untuk menuntut ilmu yang bersumber, memeriksa dalil, dan tidak membangun keyakinan atas kisah-kisah yang tidak bersanad. Imam Ali telah mengingatkan: “ู‡ู„ูƒ ู…ู† ู‚ุงู„ ุจุบูŠุฑ ุนู„ู…” — celakalah orang yang berbicara tanpa ilmu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Narasi Pribadi Menjadi Rujukan Publik

Hikmah Hadist Shaqq Al Sadr