Cahaya Kekasih
Aku berlari dari semesta,
hatiku hancur, tubuhku terluka, aku kehilangan segalanya.
Ditengah pelarianku tak kudapati apapun selain sumur tua, tanpa ragu seolah kuasa, ku ceburkan diriku kedalamnya.
Ku kira aku akan mati, ternyata tak kujumpai sapaan Sang Malaikat Maut.
Penyesalan memenuhi relung kalbuku, bak sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Aku takut, aku terhimpit, disini begitu gelap dan dingin.
Oh seandainya waktu bisa diulang...
Matahari terbit, kegelapan berangsur hilang digantikan oleh cahaya-Nya yang begitu terang.
aku mendongakkan kepalaku keatas, bulir - bulir airmata harapan jatuh dari kedua mataku,
rasa penyesalan dan tidak pantas menggerogoti jiwaku,
oh Kekasih, siapa aku yang hina ini? kenapa Kau tunjukkan cahaya-Mu pada pengkhianat ini.
Cahaya-Mu menerangi, menyirnakan segala kegelapan yang ada,
aroma-Mu begitu nyata dan menyesakkan dada.
Kekasih, betapa buruk perangaiku namun betapa lembutnya pelukan cinta-Mu.
Betapa jeleknya rintihanku, tapi betapa halusnya panggilan-Mu.
Wahai Tuan yang memberiku Cahaya, Engkau patut mendapatkan penyembahan sempurna.
Seandainya aku memiliki kuasa, biarkanlah aku melayaniMu sepanjang hidupku, bersimpuh dihadapanMu dengan diriku yang hancur.
Ikatlah aku dengan rantai cintaMu wahai Kekasih, jadikanlah aku lebur tak tersisa, asal cinta-Mu tak sirna.
Komentar
Posting Komentar