Tasawwuril Aql

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekaligus Kekasih yang Maha Rahmat yang telah merahmati hamba - hambaNya dengan keberkahan berupa akal yang membuat kita mampu berpikir, mencari kebenaran, juga membedakan benar dan salah.

Saya termasuk dari sekelompok orang yang sangat sulit sekali merasa puas ketika tak menemukan jawaban yang saya inginkan, apalagi jika pertanyaan saya dijawab dengan "jangan membahas terlalu jauh, itu bukan ranahmu", dll.

Hal yang paling sering mengusik saya adalah keingintahuan saya tentang Rahasia Takdir. 

Saya sangat meyakini bahwa segala sesuatu adalah takdirNya dan keridhaanNya, namun saya juga tidak pernah setuju dengan orang yang sering berlindung dibalik kata "saya melakukan dosa karena takdir". Menurut saya itu adalah kata yang sangat tidak pantas bagi seorang hamba.

Belajar dari Imam Ghazali RA, ketika beliau dilanda kebingungan akan kebenaran sesuatu beliau akan terus mencari dan menggali hingga kebenaran tersebut nampak. Bahkan beliau bukanlah orang yang akan menyesatkan sesuatu, kecuali beliau benar - benar sudah terjun dan memastikan sendiri bahwa hal tersebut adalah sesat.

Saya mempelajari beberapa pola berpikir aliran islam tentang takdir, mulai dari Asy'ariyyah, Maturidiyah juga Muktazilah.

Dari ketiga hal tersebut pendapat imam Asyariy adalah pendapat yang paling cocok dalam diri saya. Namun saya belum mendapatkan jawaban yang pas atas kebingungan saya, kemudian saya kembali belajar dan meneruskan keingintahuan saya, sampai dititik saya mampu menuliskan hal ini dan dibaca oleh dirimu.

Saya adalah orang yang sangat terbuka menerima kebenaran dari segala arah, saya tidak ingin dikekang oleh hawa nafsu saya dan menjadi buta atas kebenaran, dan seandainya kelak saya menemukan kebenaran baru maka saya pasti akan lebih memilih kebenaran yang baru.

Disinilah akan saya jelaskan secara ringan dan saya harap sebagaimana hal ini mampu mencerahkan saya, hal ini juga mampu mencerahkan dirimu.

Ibn Arabi RA, berkata bahwa manusia diciptakan Allah dengan 4 unsur. Manusia memiliki 1) Ruh, 2) Akal, 3) Nafsu, 4) Jasmani (tubuh).

Ruh adalah yang pertama kali Allah ciptakan bahkan dalam sebuah riwayat Ruh diciptakan 2000 tahun sebelum terciptanya jasad nabi adam AS. Ruh adalah yang paling mengenal Allah, Ruh jugalah yang 'sakit' ketika seorang hamba melakukan perbuatan dosa. Rasa sesal, rasa kecewa, rasa malu, bersumber dari sang Ruh.

Akal adalah Ciptaan Allah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, manusia bisa berpikir hingga ia tak sama dengan hewan ataupun malaikat. Kekuatan Akal juga menjadikan manusia yang 'tak berakal' tidak dijatuhi kewajiban mematuhi syariat. Akal juga termasuk inti dari manusia, ketika Ruh sejalan dengan Akal maka manusia bisa disebut sebagai manusia yang mulia.

Didalam ihya' ulumuddin, ketika Allah menciptakan nafsu, Nafsu tersebut berbalik ketika Allah memerintahkannya untuk menghadapNya. Nafsu bukanlah hal yang perlu dibunuh secara total, karena manusia mau makan dan minum, bekerja, berusaha, segalanya juga bersumber dari adanya Nafsu. Seandainya kamu tak memiliki nafsu untuk makan misalnya, lalu bagaimana kamu akan melanjutkan kehidupan?

Kemudian unsur yang terakhir adalah Jasmani, tubuhmu / jasadmu yang kamu juga memiliki kewajiban untuk menjaganya dan merawatnya, jika jasmanimu tidak sehat bagaimana kamu mampu melakukan kebaikan - kebaikan yang membuat Ruhmu semakin kenal dengan Penciptanya?


Kembali ke point yang ingin saya sampaikan. Segala syukur bagi Allah yang telah meng-anugrahi kita 4 unsur ini. 

Setelah saya pelajari kembali, saya sampai kepada kesimpulan bahwa kenapa seorang pendosa yang ketika melakukan dosa adalah takdir namun tetap dijatuhi hukuman di akhirat, ataupun kenapa Allah mempertanyakan sesuatu yang telah ditakdirkanNya kepada kita kelak diakhirat?

Karena Allah Tuhanmu yang maha Adil dan maha rahmat telah memberikanmu 4 unsur diatas. Kamu tidak hanya diciptakan untuk memuaskan nafsumu saja, kamu diciptakan memiliki ruh, akal, nafsu dan juga jasmani.

ketika kamu condong kepada salah satunya dan kamu condong kepada hal yang buruk (misalnya mengikuti hawa nafsu yang keliru) maka kelak itulah yang akan dihujjah. Sekali lagi, Allah memberikanmu 4 unsur, kamu tahu mana yang baik dan buruk, mengapa 'kamu memilih' untuk condong ke salah satunya ketika kamu seharusnya memperdayakan ke 4 nya dengan baik.

Misalnya, saya memiliki anak kemudian saya memberikan 4 mainan kepada anak saya, kemudian tanpa paksaan saya, 'dia memilih' salah satu dari ke -4 mainan tersebut dan condong kepadanya, maka saya sebagai ibu akan bertanya kepada anak saya 'mengapa kamu lebih menyukai yang ini? padahal mama kasih kamu 4 mainan'.

Dan perihal segala sesuatu adalah takdir Allah, sekali lagi itu adalah hal yang pasti dan betul. Allah selalu mengetahui dalam 'ilmuNya'. Allah tak pernah memaksa seseorang melakukan dosa, Maha suci Allah dari hal Tersebut. namun ketika ia lebih condong mengikuti hawa nafsunya dan tercebur pada nafsu yang menjerumuskannya kedalam dosa maka hal tersebut telah Allah ketahui dari semenjak awal mula penciptaan karena segala sesuatu adalah milikNya.

Wallahu A'lam, sesungguhnya kebenaran hanyalah milik Allah dan tak ada satupun yang pasti kecuali Dia.

Semoga Allah berkenan mengampuni dosa - dosa kita yang telah berlalu, sekarang ataupun dimasa yang akan datang.

amin, ya rabb.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benarkah manusia ditanya 77 kali sebelum diturunkan ke dunia? Menimbang ulang sumber pengetahuan dan kebenaran gaib dalam Islam

Ketika Narasi Pribadi Menjadi Rujukan Publik

Hikmah Hadist Shaqq Al Sadr