Kehidupan Manusia Seolah Buku
Hidup ini seolah-olah sebuah buku. Setiap orang yang hadir dalam hidup kita hanyalah “tokoh” yang mengisi halaman-halaman tertentu dalam buku itu. Ada yang hadir hanya sebentar, sekadar lewat di satu paragraf. Ada pula yang mengisi berlembar-lembar penuh dengan warna, tawa, atau bahkan air mata. Namun satu hal yang pasti: ketika mereka pergi, bukan hidup kita yang berakhir, melainkan kisah mereka dalam buku kitalah yang telah usai.
Selama Allah masih memberikan kita kehidupan, berarti buku itu belum ditutup. Masih akan ada kisah-kisah lain yang menanti: babak baru, tokoh baru, dan bahkan kejutan baru yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.
Dalam bahasa Inggris ada ungkapan “It will pass”—semuanya akan berlalu. Dalam bahasa Arab, sering pula kita mendengar ungkapan ุณَูู ُุฑُّ ُُّูู ุดَْูุกٍ (sayamurru kullu shay’) yang bermakna sama: “Segala sesuatu akan berlalu.” Kata “segala sesuatu” mencakup semuanya: musibah yang berat akan berlalu, kesenangan yang membuncah pun akan berlalu. Bahkan orang-orang yang kita cintai, satu per satu, akan meninggalkan halaman buku kita. Pada akhirnya, puncaknya adalah diri kita sendiri yang akan pergi, dan buku kita pun ditutup untuk selamanya.
Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
ُُّูู َْููุณٍ ุฐَุงุฆَِูุฉُ ุงْูู َْูุชِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini bukan hanya bicara soal kematian kita sendiri, tapi juga tentang kesadaran bahwa setiap orang dalam hidup kita tidak akan selamanya tinggal bersama kita.
Lalu, mengapa ada pasangan yang menikah bisa bercerai? Karena sebagaimana manusia lain dalam hidup kita bisa pergi, begitu pula orang-orang terdekat kita. Semua yang ada di dunia ini pasti memiliki akhir. Jika pernikahan tidak berakhir dengan perpisahan, maka ia akan berakhir dengan kematian. Begitulah siklus alamiah yang Allah tetapkan.
Menyadari kenyataan ini, seharusnya membuat kita lebih mampu menghargai setiap hal kecil dalam hidup. Jika kita tahu semua akan berlalu, untuk apa berlarut-larut dalam kemarahan? Pada orang tua, pada pasangan, pada sahabat, atau pada lingkungan. Lembaran hidup manusia tidaklah tebal, umur kita amat singkat.
Rasulullah SAW bersabda:
ุงุบุชูู ุฎู ุณًุง ูุจู ุฎู ุณٍ: ุดุจุงุจู ูุจู ูุฑู ู، ูุตุญุชู ูุจู ุณูู ู، ูุบูุงู ูุจู ููุฑู، ููุฑุงุบู ูุจู ุดุบูู، ูุญูุงุชู ูุจู ู ูุชู
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim)
Maka selama buku itu belum habis, cobalah berdamai dengan takdirmu. Belajarlah berjalan bersama alur cerita yang Allah tuliskan untukmu. Renungkan karunia-Nya dalam setiap helaan nafasmu, dalam mata yang memandangmu dengan kasih, dalam pelukan hangat orang yang tulus mencintaimu, bahkan dalam emosi yang mereka luapkan padamu.
Sebab pada akhirnya, semua hanyalah cerita yang akan berlalu. Yang tersisa hanyalah bagaimana kita membaca buku ini dengan syukur, dan menuliskan kisah kita dengan sebaik-baiknya sebelum halaman terakhir itu tiba.
Komentar
Posting Komentar