Memahami Filsafat Jiwa Secara Sederhana
Manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua sisi: jasad dan jiwa. Jasad hanyalah wadah sementara, sedangkan jiwa adalah isi yang menghidupkannya. Ia seperti sebuah mainan yang berbatrai, ketika baterai itu masih ada, mainan bergerak dan berbunyi, namun ketika baterai dicabut, ia hanya menjadi benda mati. Begitulah tubuh, ia tak lebih dari sekadar rangkaian materi yang rapuh. Kehidupan sejatinya datang dari jiwa.
Ibnu Sina membagi jiwa ke dalam tiga tingkatan. Pertama adalah jiwa nabati, yang memberi makan, tumbuh, dan berkembang, ia dimiliki manusia, hewan, bahkan tumbuhan. Kedua adalah jiwa hewani, yang menggerakkan tubuh, memberi rasa, dan melahirkan nafsu. Ketiga adalah jiwa insani atau ruhani, yang mampu berpikir, merenung, dan merindukan kebenaran. Jiwa ruhani inilah yang paling luhur, karena berasal dari cahaya Ilahi. Ia selalu rindu kembali kepada sumbernya, kepada Tuhan.
Mulla Sadra melanjutkan pemikiran ini dengan lebih dalam. Baginya, jiwa bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan bergerak. Ia tumbuh bersama tubuh, namun seiring kesempurnaan, jiwa bisa melampaui tubuh. Ketika jiwa ruhani yang menguasai jasad, maka tubuh akan berjalan di jalan yang benar, tetapi jika jiwa tunduk pada nafsu, maka manusia akan terjerumus pada dunia yang rendah.
Al-Ghazali menggambarkan jiwa dengan cara yang lebih spiritual. Baginya, jiwa adalah raja, sementara tubuh adalah tentaranya. Jika sang raja bijak dan kuat, tenteranya akan tunduk dan negeri (yakni diri manusia) akan damai. Namun jika raja lemah dan tenteranya liar, maka negeri itu akan kacau. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang mengenal Allah, dan tubuh hanyalah alat untuk mencapai kedekatan itu.
Fakhruddin al-Razi menambahkan permenungan dengan pertanyaan-pertanyaan tajamnya. Ia sering menggugat: bagaimana mungkin sesuatu yang immateri (jiwa) bisa bersatu dengan materi (tubuh)? Namun justru dalam kontradiksi itu, manusia menemukan rahasia keberadaannya. Jiwa condong ke atas, mencari cahaya dan kesempurnaan, sementara tubuh condong ke bawah, tertarik oleh materi. Dua hal yang tampak bertentangan ini ternyata bisa bersatu dalam satu wadah, meski tidak pernah seimbang. Akan selalu ada yang lebih dominan: entah jiwa yang menuntun tubuh menuju Allah, atau tubuh yang menyeret jiwa ke bumi.
Seperti listrik dengan kutub positif dan negatif, keduanya bisa bersatu untuk menyalakan kehidupan, tapi energi yang lahir bergantung pada arah dominasi. Begitu juga manusia: hidupnya selalu menjadi medan tarik-menarik antara atas dan bawah, antara cahaya dan kegelapan, antara rindu kepada Tuhan dan ketertarikan pada dunia.
Di sinilah rahasia kalimat hikmah para arifin menemukan tempatnya: “ู ู ุนุฑู ููุณู ููุฏ ุนุฑู ุฑุจู” — siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Sebab dengan menyelami kedalaman jiwa, manusia akan menemukan cermin yang memantulkan cahaya Ilahi. Jasad hanyalah wadah yang akan ditinggalkan, namun jiwa ruhani adalah inti yang akan kembali. Dan siapa yang menjadikan jiwanya pengendali atas tubuh, maka ia sedang berjalan menuju kesempurnaan, menuju Allah yang selalu dirindukannya.
Komentar
Posting Komentar