Mengkritik Aqidah Mutasyabbihat & Mujassimat

 

1. Prinsip Aqidah: Allah Tidak Serupa dengan Makhluk

Dalam aqidah Islam, para ulama menetapkan bahwa salah satu sifat Allah adalah mukhalafatu lil hawadits, yaitu Allah berbeda dari segala yang baharu (ciptaan). Maka Allah tidak dapat disifatkan dengan sifat materi, ruang, arah, bentuk, atau gerak yang merupakan ciri makhluk.




2. Dalil Al-Qur’an


ู„َูŠْุณَ ูƒَู…ِุซْู„ِู‡ِ ุดَูŠْุกٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (Asy-Syura: 11)

Ayat ini merupakan asas seluruh pembahasan tanzih, menolak segala bentuk penyerupaan Allah dengan makhluk, baik secara fisik maupun sifat.




3. Argumentasi Akal: Pencipta Tidak Mungkin Menjadi Bagian dari Ciptaan

Secara akal sehat kita semua meng-amini hal ini bahwa:

“yang mencipta tidak mungkin menjadi bagian dari ciptaan ataupun serupa dengan ciptaan.”


Pembuat rumah tidak menjadi dinding rumah; tukang kayu tidak berubah menjadi kayu; pembuat roti bukanlah roti itu sendiri. Maka Pencipta ruang dan waktu tidak mungkin berada dalam ruang dan waktu apalagi sama seperti ciptaan-Nya.


Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata:

“Yang bertempat pasti membutuhkan tempat, dan sesuatu yang membutuhkan pastilah makhluk.”²

Kebutuhan adalah tanda kekurangan, sedangkan kekurangan mustahil bagi Allah.




4.Kritik terhadap Keyakinan bahwa Allah Bertempat

Keyakinan bahwa Allah berada di langit, berada di atas ‘Arsy secara fisik, atau berada pada arah tertentu adalah bentuk pembatasan terhadap Dzat Allah.

Logika bantahannya:

• Jika Allah berada di langit, maka langit memuat-Nya, padahal langit adalah makhluk, dan juga jika Allah di langit maka dimana Allah sebelum langit diciptakan?

• Jika Allah berposisi fisik di atas Arsy, maka sebelum Arsy diciptakan, di mana Dia?

• Jika Allah berada di arah tertentu, misalnya di arah kiblat, lalu dimana Allah ketika manusia belum beribadah menghadap kiblat? Jika Allah berada di kanan, maka apakah kalian mengatakan Allah lemah sehingga Allah tidak bisa ada di kiri, di samping, dsb?


Mengatakan Allah ber-arah maka Allah terbatas, sedangkan keterbatasan adalah sifat makhluk.

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari menegaskan bahwa Allah tidak diliputi arah, bentuk, dan tempat.³



5. Dalil Al-Qur’an tentang Ketidakterikatan Allah dengan Tempat


Pertama:

ูˆَู‡ُูˆَ ู…َุนَูƒُู…ْ ุฃَูŠْู†َ ู…َุง ูƒُู†ุชُู…ْ

“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4)

Kebersamaan ini bukan kebersamaan fisik, tetapi kebersamaan dengan ilmu, pengawasan, dan kekuasaan Allah.⁴


Kedua:

ูˆَู†َุญْู†ُ ุฃَู‚ْุฑَุจُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ู…ِู†ْ ุญَุจْู„ِ ุงู„ْูˆَุฑِูŠุฏِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaf: 16)

Kedekatan ini adalah kedekatan pengetahuan dan pengendalian, bukan kedekatan ruang.⁵





6. Penjelasan Para Ulama dan Ahlul Bait

Imam Ali bin Abi Thalib: “Allah ada tanpa tempat, dan sekarang pun Allah sebagaimana keadaan-Nya (sebelum menciptakan tempat).”

Imam Ja’far Ash-Shadiq: “Barangsiapa menyifati Allah dengan sifat makhluk, ia telah kafir.”⁷

Imam Abu Manshur al-Maturidi berkata : "bahwa Allah tidak berada di dalam sesuatu, tidak di luar sesuatu, dan tidak menempel pada sesuatu." (Kitab at-Tauhid)




7. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan

“Ayat-ayat mutasyabihat wajib ditakwil maknanya atau ditetapkan tanpa makna fisik, sebab memahami secara lahiriah akan menimbulkan tasybih.”⁸


Imam Al-Bayhaqi:

“Allah sudah ada sebelum Arsy, tanpa tempat. Maka siapa yang menetapkan tempat bagi Allah, ia telah menetapkan permulaan bagi-Nya.”⁹


8. Menjelaskan Sifat-Sifat Makhluk yang Mustahil bagi Allah


Segala kekurangan makhluk mustahil bagi Allah, seperti:

a. membutuhkan ruang

b. perubahan dan pergerakan

c. tersusun dari bagian

d. memiliki bentuk, ukuran, dan batas

e. memiliki arah dan tempat

f. terpengaruh oleh suasana (senang, sedih karena sebab luar)

g. membutuhkan cahaya atau sentuhan untuk diketahui

h. didahului oleh waktu

i. lahir atau mati

j. mengalami kelelahan atau ketidaksempurnaan


Karena Allah berfirman:

ู„َู…ْ ูŠَู„ِุฏْ ูˆَู„َู…ْ ูŠُูˆู„َุฏْ

“Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”


ูˆَู„َู…ْ ูŠَูƒُู† ู„َّู‡ُ ูƒُูُูˆًุง ุฃَุญَุฏٌ

“Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash: 3–4)



9. Ayat Mutasyabihat Tidak Boleh Dipahami secara Fisik

Ayat-ayat seperti “tangan Allah”, “wajah Allah”, “turun”, dan “istiwa’” apabila dipahami secara fisik akan bertentangan dengan ayat tanzih. Karena itu ulama menafsirkan secara maknawi.


Dalil tanzih:

ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู…َّุง ูŠَุตِูُูˆู†َ

“Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.” (Ash-Shaffat: 159)


10. Kaidah Ulama tentang Makna Ayat Mutasyabihat

a. Imam Malik: “Istiwa’ itu maklum maknanya, kaifiyahnya tidak diketahui, bertanya tentang caranya adalah bid’ah.”

b. Imam Al-Ghazali: “Takwil diperbolehkan bila makna zahir membawa pada tasybih.”

c. Fakhruddin Ar-Razi: “Sesuatu yang bertempat pasti makhluk, maka ayat tempat harus ditakwil.”


Kesimpulannya: makna fisik ditolak, makna ketuhanan tetap diambil.



11. Contoh Makna Ilmiah Beberapa Ayat Mutasyabihat

a. Ayat Istiwa’

ุงู„ุฑَّุญْู…َٰู†ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุฑْุดِ ุงุณْุชَูˆَู‰

“Yang Maha Pengasih beristiwa’ di atas Arsy.” (Thaha: 5)


Makna ilmiah:

• bukan duduk

• bukan bersentuh

• bukan menempati arah


Istiwa’ = puncak kekuasaan, dominasi, dan pengaturan total Allah.

(Catatan kaki: Ath-Thabari menafsirkan “irtafa‘a” (meninggi dalam kedudukan), bukan tempat.)


b. Ayat “Tangan Allah”

ุจَู„ْ ูŠَุฏَุงู‡ُ ู…َุจْุณُูˆุทَุชَุงู†ِ

“Tetapi kedua tangan-Nya terbuka.” (Al-Ma’idah: 64)


Makna ilmiah: kedermawanan dan kemurahan Allah.

(Catatan kaki: Imam Nawawi menegaskan ayat anggota tubuh harus ditakwil jika makna zahir menunjukkan jisim.)


c. Ayat “Wajah Allah”

ูƒُู„ُّ ุดَูŠْุกٍ ู‡َุงู„ِูƒٌ ุฅِู„َّุง ูˆَุฌْู‡َู‡ُ

“Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya.” (Al-Qashash: 88)


Makna ilmiah: Dzat Allah yang kekal.

(Catatan kaki: Tafsir al-Baghawi dan al-Baydawi.)


d. Hadits “Allah turun”

“Rabb kita turun ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir.”


Makna ilmiah: bukan perpindahan arah, tapi simbol terbukanya rahmat dan pengabulan doa.

(Catatan kaki: Ibn Hajar al-Asqalani menyatakan bahwa “turun” = datangnya rahmat, bukan perpindahan.)



12. Penjelasan Ulama Hikmah (Filsuf Islam seperti Mulla Sadra)

a. Semua sifat “arah”, “lokasi”, dan “bentuk” adalah sifat benda.

b. Allah adalah wujud murni, bukan benda, bukan cahaya fisik.

c. Ayat mutasyabihat harus dipahami dalam level metafisik, bukan material.


13. Menjawab Pertanyaan Anak: “Allah di mana?”

Anak kecil belum memahami konsep metafisika. Jawaban paling selamat adalah sebagaimana diajarkan para ulama:

“Allah melihatmu, menjaga, dan dekat denganmu dengan ilmu-Nya.”


Setelah akalnya matang, barulah dijelaskan dengan dalil dan kaidah ilmiah.




14. Kesimpulan

Meyakini bahwa Allah bertempat, berada dalam arah tertentu, duduk, turun secara fisikal, atau terikat dimensi adalah keyakinan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, akal, dan konsensus ulama besar.


Allah ada tanpa tempat, tanpa arah, tanpa bentuk, tidak berubah, tidak bergerak, tidak dibatasi, dan tidak menyerupai apa pun.

Dialah Yang Maha Suci dari segala sifat makhluk.








Catatan kaki:

  1. Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir surat Asy-Syura ayat 11.
  2. Fakhruddin Ar-Razi, kitab Al-Muhassal, halaman 68.
  3. Abu Hasan Al-Asy’ari, kitab Al-Ibanah, edisi tahqiq.
  4. Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim, bab tentang sifat-sifat Allah.
  5. Imam Al-Ghazali, Al-Iqtishad fil I’tiqad.
  6. Nahjul Balaghah, Khutbah nomor 186.
  7. Al-Allamah Al-Majlisi, Bihar Al-Anwar, jilid 3.
  8. Imam Nawawi, Syarh Muslim, bab Al-Mutasyabihat.
  9. Al-Bayhaqi, Al-Asma’ wa As-Sifat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benarkah manusia ditanya 77 kali sebelum diturunkan ke dunia? Menimbang ulang sumber pengetahuan dan kebenaran gaib dalam Islam

Ketika Narasi Pribadi Menjadi Rujukan Publik

Hikmah Hadist Shaqq Al Sadr