Filsafat dan Kalam: Dua Jalan Berbeda Memahami Tuhan
Salah satu perdebatan klasik dalam sejarah intelektual Islam adalah tentang relasi Tuhan dan alam. Pertanyaan yang selalu muncul: apakah alam ini qadīm (tidak bermula) ataukah ḥādits (baru diciptakan)? Sekilas terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan perbedaan pandangan yang dalam antara para mutakallimīn (ahli kalam, seperti Asyā‘irah) dan para falāsifah (filsuf Muslim seperti Ibn Sīnā). Hal penting yang perlu dicatat: perdebatan ini tidak pernah dimaksudkan untuk menolak keberadaan Tuhan. Baik filsuf maupun mutakallim sama-sama sepakat bahwa alam bergantung sepenuhnya pada Allah. Yang berbeda hanyalah cara menjelaskan hubungan itu. Bagi mutakallimīn, Allah adalah al-Fā‘il bi al-Ikhtiyār, Sang Maha Pelaku yang berkehendak bebas. Alam ini adalah ḥādits (baru), karena segala sesuatu yang berubah pasti baru. Allah mencipta kapan saja sesuai kehendak-Nya, tidak terikat oleh keharusan apa pun. Prinsip utama mereka: hanya Allah dan sifat-sifat-Nya yang qadīm, sedangkan selain-N...