Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Filsafat dan Kalam: Dua Jalan Berbeda Memahami Tuhan

Salah satu perdebatan klasik dalam sejarah intelektual Islam adalah tentang relasi Tuhan dan alam. Pertanyaan yang selalu muncul: apakah alam ini qadīm (tidak bermula) ataukah ḥādits (baru diciptakan)? Sekilas terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan perbedaan pandangan yang dalam antara para mutakallimīn (ahli kalam, seperti Asyā‘irah) dan para falāsifah (filsuf Muslim seperti Ibn Sīnā). Hal penting yang perlu dicatat: perdebatan ini tidak pernah dimaksudkan untuk menolak keberadaan Tuhan. Baik filsuf maupun mutakallim sama-sama sepakat bahwa alam bergantung sepenuhnya pada Allah. Yang berbeda hanyalah cara menjelaskan hubungan itu. Bagi mutakallimīn, Allah adalah al-Fā‘il bi al-Ikhtiyār, Sang Maha Pelaku yang berkehendak bebas. Alam ini adalah ḥādits (baru), karena segala sesuatu yang berubah pasti baru. Allah mencipta kapan saja sesuai kehendak-Nya, tidak terikat oleh keharusan apa pun. Prinsip utama mereka: hanya Allah dan sifat-sifat-Nya yang qadīm, sedangkan selain-N...

Memahami Filsafat Jiwa Secara Sederhana

Manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua sisi: jasad dan jiwa. Jasad hanyalah wadah sementara, sedangkan jiwa adalah isi yang menghidupkannya. Ia seperti sebuah mainan yang berbatrai, ketika baterai itu masih ada, mainan bergerak dan berbunyi, namun ketika baterai dicabut, ia hanya menjadi benda mati. Begitulah tubuh, ia tak lebih dari sekadar rangkaian materi yang rapuh. Kehidupan sejatinya datang dari jiwa. Ibnu Sina membagi jiwa ke dalam tiga tingkatan. Pertama adalah jiwa nabati, yang memberi makan, tumbuh, dan berkembang, ia dimiliki manusia, hewan, bahkan tumbuhan. Kedua adalah jiwa hewani, yang menggerakkan tubuh, memberi rasa, dan melahirkan nafsu. Ketiga adalah jiwa insani atau ruhani, yang mampu berpikir, merenung, dan merindukan kebenaran. Jiwa ruhani inilah yang paling luhur, karena berasal dari cahaya Ilahi. Ia selalu rindu kembali kepada sumbernya, kepada Tuhan. Mulla Sadra melanjutkan pemikiran ini dengan lebih dalam. Baginya, jiwa bukanlah sesuatu yang tetap, me...

Kehidupan Manusia Seolah Buku

Hidup ini seolah-olah sebuah buku. Setiap orang yang hadir dalam hidup kita hanyalah “tokoh” yang mengisi halaman-halaman tertentu dalam buku itu. Ada yang hadir hanya sebentar, sekadar lewat di satu paragraf. Ada pula yang mengisi berlembar-lembar penuh dengan warna, tawa, atau bahkan air mata. Namun satu hal yang pasti: ketika mereka pergi, bukan hidup kita yang berakhir, melainkan kisah mereka dalam buku kitalah yang telah usai. Selama Allah masih memberikan kita kehidupan, berarti buku itu belum ditutup. Masih akan ada kisah-kisah lain yang menanti: babak baru, tokoh baru, dan bahkan kejutan baru yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Dalam bahasa Inggris ada ungkapan “It will pass”—semuanya akan berlalu. Dalam bahasa Arab, sering pula kita mendengar ungkapan سيَمُرُّ كُلُّ شَيْءٍ (sayamurru kullu shay’) yang bermakna sama: “Segala sesuatu akan berlalu.” Kata “segala sesuatu” mencakup semuanya: musibah yang berat akan berlalu, kesenangan yang membuncah pun akan berlalu. B...

Mengapa Imam al-Ghazali Menolak Kausalitas?

Banyak orang mengenal Imam Abu Hamid al-Ghazali sebagai tokoh besar dalam dunia tasawuf dan teologi. Salah satu pandangan beliau yang paling kontroversial adalah penolakannya terhadap kausalitas — gagasan bahwa segala sesuatu di alam terjadi karena hubungan sebab-akibat yang niscaya. Biasanya, orang hanya mengutip contoh sederhana dari Tahafut al-Falasifah: “Api tidak dengan sendirinya membakar kapas.” Lalu dikira bahwa al-Ghazali sekadar menolak hukum alam. Padahal, pandangan beliau jauh lebih dalam. Dalam filsafat peripatetik (Aristotelian dan kemudian Ibn Sina), alam dipahami berjalan dengan hukum sebab-akibat yang niscaya. Bila ada sebab, pasti lahir akibatnya, tanpa campur tangan terus-menerus dari Tuhan. Konsekuensinya, Allah hanya menjadi penggerak pertama yang menyalakan mesin alam. Setelah itu, alam dianggap berjalan otomatis, sebagaimana jam bergerak setelah dibuat oleh tukang jam. Bagi al-Ghazali, ini berbahaya. Jika diterima mentah-mentah, maka seolah-olah alam punya ...

Perempuan dalam Islam: Sentral, Mulia, dan Penentu Peradaban

Banyak orang beranggapan bahwa perempuan dalam Islam hanyalah sosok pasif, berada di balik bayang-bayang laki-laki. Padahal, Islam menempatkan perempuan sebagai pusat kehidupan, tiang peradaban, dan sumber kekuatan moral. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, saling melengkapi dalam mengemban risalah kehidupan. Sosok yang paling indah untuk menggambarkan hal ini adalah Sayyidah Fāṭimah al-Zahrā. Beliau bukan hanya putri Rasulullah ﷺ, tetapi juga sentral kehidupan keluarga. Dalam dirinya tergambar kekuatan iman, kelembutan kasih seorang ibu, sekaligus ketegasan dalam membela kebenaran. Dari didikannya lahir generasi agung: Imam Hasan yang terkenal dermawan, Imam Husain yang gagah berani dalam melawan kebatilan, Sayyidah Zaynab yang tegar dan fasih dalam menyuarakan kebenaran, serta Ummu Kultsum yang lembut dan penuh kesetiaa...